Kenangan dari Putri Adam

Kosong dan sepi dirimu kini walau kau tak benar-benar kosong.
Putih dirimu bagaikan susu yang lembut dan memuaskan dahaga.
Dulu kau penuh canda dan gelak tawa,
keriangan dan senyuman selalu tersebar di seluruh penjuru
hingga tak mungkin kau dibilang tak bernyawa.

Kau yang selalu membuat setiap jiwa didalammu merasa seperti satu,
Kau menerima jutaan ekspresi dan kenangan dari setiap jiwa yang pernah
ada bersamamu. Kau adalah tempat para Putri Adam menyandarkan
jiwa dan raga mereka di kala meraup asa kehidupan.
Kau, ya Kau, tempat bersemayamnya mimpi-mimpi itu,
mimpi-mimpi yang lahir dari rajutan pengetahuan dan pengalaman,
sulaman asa, haru, kesedihan dan kebahagiaan.

Kini, kesepian lah yang sekarang menyelubungimu,
selubung yang tercipta karena waktu dan teknologi.
Tak banyak lagi keriuhan yang tercipta di dalammu.
Setiap malam, saat seharusnya menjalin rasa,
setiap jiwa hanya menetap di dalam bilik mereka
memberi sekat di antara para Putri Adam.
Dulu mereka akan saling mendahului memasuki
salah satu bilik para Putri dan mulai merajut cerita dan kenangan.
Dan mereka akan bercerita hingga sang teropong jiwa
tak kuat lagi menatap.
Sekarang yang ada hanyalah ruang-ruang yang berdiri kokoh
di huni para Putri Adam dan sekat-sekat tak kasat mata di antara mereka.
Ruang-ruang yang kini hanya dianggap peraduan semata,
dan bukan tempat menyulam kisah di antara para Putri.

Kau sekarang hanya terlihat seperti kastil kosong tanpa nyawa
yang mulai usang. Seperti kesenduan memancar dari jiwamu karena
tak lagi di hujani keriuh-rendahan canda dan tawa.
Namun kamu tak bisa apa-apa,
waktu dan zaman telah mengubah para Anak Hawa itu.
Roh mereka berbeda dengan Para Putri Adam yang dulu.
Mungkin, ada satu masa kau terisak dan isakan itu tak pernah
benar-benar bisa terdengar oleh para Anak Hawa itu.
Mereka sungguh tuli dan buta tentangmu.
Mereka tak benar-benar bisa melihat harapan yang Kau gantungkan
pada diri gadis-gadis muda itu.

Lalu di akhir purnama depan, Kau tersenyum
pada mereka walau Kau tahu masa kesudahanmu akan usai.
Kau tahu suatu waktu para Putri akan benar-benar pergi
meninggalkanmu dan harapanmu.
Dan kau menatapku sambil berujar, ‘Ah, jangan bersedih Putri!
Aku takkan benar-benar sendiri dan sepi. Akan ada masa
saat para Putri kembali lagi; berbisik-bisik bahkan menguraikan
gelak tawa bersamaku. Dan aku akan menjadi pendengar
mereka yang paling setia.’

Kemudian aku tersenyum padanya sebelum aku betul-betul
meninggalkannya. ‘Terimakasih dan sampai jumpa lagi’, ucapku dalam hati.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s